Tugas Terstruktur 07
Desta Adhitya
AE15
41324010012
Mesin: Jantung dari inovasi.
Rencana Operasional dan Prosedur Pengendalian Mutu
Usaha Produksi Sabun Herbal Alami
1. Deskripsi Usaha dan Produk
Usaha yang dianalisis dalam laporan ini adalah UMKM Sabun Herbal Alami, yaitu usaha produksi sabun mandi padat berbahan dasar minyak nabati (minyak kelapa dan minyak zaitun) yang dipadukan dengan ekstrak herbal lokal seperti lidah buaya, sereh, dan daun sirih. Produk ini ditujukan untuk konsumen yang peduli terhadap kesehatan kulit dan lingkungan, serta menghindari bahan kimia sintetis berlebihan.
Keunggulan produk meliputi:
Bahan baku alami dan relatif aman bagi kulit sensitif
Proses produksi skala kecil-menengah dengan kontrol kualitas ketat
Kemasan ramah lingkungan
2. Proses Produksi Sabun Herbal
Proses produksi menggunakan metode cold process yang umum digunakan dalam pembuatan sabun herbal.
Alur Proses Produksi:
Penimbangan bahan baku (minyak, NaOH, air, ekstrak herbal)
Pencampuran larutan NaOH dengan minyak
Penambahan ekstrak herbal dan essential oil
Pencetakan sabun
Proses curing (pengeringan) ± 21–30 hari
Pemotongan dan pengemasan
Diagram Alur Proses Produksi (Flowchart Sederhana):
Bahan Baku → Penimbangan → Pencampuran → Pencetakan → Curing → Pemotongan → Pengemasan → Produk Jadi
3. Perencanaan Kapasitas dan Jadwal Produksi
Kapasitas Produksi:
Kapasitas produksi: 500 batang sabun/bulan
Waktu kerja: 20 hari kerja/bulan
Output harian rata-rata: 25 batang sabun/hari
Contoh Jadwal Produksi Bulanan:
| Minggu | Kegiatan Utama |
|---|---|
| 1 | Persiapan bahan dan pencampuran |
| 2 | Pencetakan dan curing awal |
| 3 | Curing lanjutan |
| 4 | Pemotongan, QC, dan pengemasan |
4. Alokasi Sumber Daya
a. Tenaga Kerja
1 orang produksi utama
1 orang quality control & pengemasan
1 orang administrasi (paruh waktu)
b. Bahan Baku
Minyak kelapa
Minyak zaitun
NaOH (food grade)
Ekstrak herbal alami
Essential oil
Kemasan kertas daur ulang
c. Peralatan Produksi
Timbangan digital
Blender/mixer sabun
Cetakan silikon
Meja produksi stainless
Alat potong sabun
5. Layout Fasilitas dan Alur Kerja
Layout produksi dirancang satu arah untuk menghindari kontaminasi silang:
Area Bahan Baku → Area Produksi → Area Curing → Area QC → Area Pengemasan
Desain ini meningkatkan efisiensi alur kerja dan memudahkan pengendalian mutu.
6. Estimasi Biaya Operasional dan Waktu Siklus
Estimasi Biaya Operasional Bulanan:
| Komponen | Estimasi Biaya (Rp) |
|---|---|
| Bahan baku | 3.000.000 |
| Tenaga kerja | 2.500.000 |
| Utilitas & operasional | 1.000.000 |
| Kemasan | 750.000 |
| Total | 7.250.000 |
Waktu Siklus Produksi:
Produksi aktif: 2 hari
Curing: 21–30 hari
Total lead time: ± 30 hari
7. Prosedur Pengendalian Mutu (Quality Control)
7.1 Standar Kualitas Produk
Visual: warna merata, tidak retak
Fungsional: busa stabil, tidak menyebabkan iritasi
Keamanan: pH sabun 8–10 sesuai standar sabun mandi
7.2 Tahapan Inspeksi dan Metode Pengujian
| Tahap | Metode Inspeksi |
|---|---|
| Bahan baku | Pemeriksaan visual & tanggal kedaluwarsa |
| Produksi | Pengamatan proses pencampuran |
| Produk jadi | Uji pH, uji visual, uji aroma |
7.3 Sistem Pencatatan dan Pelaporan Cacat
Form inspeksi harian
Rekap produk cacat per batch
Dokumentasi digital sederhana (spreadsheet)
Contoh Form Inspeksi Mutu:
Tanggal | Batch | Jumlah | Cacat | Keterangan
8. Tindakan Korektif dan Preventif
Menggunakan pendekatan PDCA (Plan–Do–Check–Act):
Plan: menetapkan standar kualitas
Do: menjalankan produksi sesuai SOP
Check: inspeksi dan evaluasi hasil
Act: perbaikan resep atau proses jika terjadi cacat
Pendekatan Kaizen diterapkan melalui evaluasi rutin mingguan untuk perbaikan berkelanjutan.
9. Peran Tim QC dan Pelatihan Karyawan
Tim QC bertanggung jawab atas inspeksi produk dan pencatatan mutu
Pelatihan karyawan dilakukan setiap 3 bulan meliputi:
SOP produksi
Keselamatan kerja
Dasar pengendalian mutu
10. Kesimpulan
Rencana operasional usaha sabun herbal alami ini dirancang secara realistis dan sesuai prinsip manajemen produksi. Prosedur pengendalian mutu yang diterapkan berbasis PDCA dan Kaizen mampu menjaga konsistensi kualitas produk, meningkatkan efisiensi operasional, serta membangun kepercayaan konsumen.
Dengan penerapan sistem operasional dan mutu yang baik, usaha ini memiliki potensi untuk berkembang secara berkelanjutan di pasar produk kesehatan dan ramah lingkungan.
Daftar Pustaka
Heizer, J., Render, B., & Munson, C. (2020). Operations management (13th ed.). Pearson.
Pyzdek, T., & Keller, P. (2018). The Six Sigma handbook. McGraw-Hill.
Slack, N., Brandon-Jones, A., & Burgess, N. (2022). Operations management (10th ed.). Pearson.
ISO. (2015). ISO 9001:2015 Quality management systems – Requirements.
Komentar
Posting Komentar